16 December 2018

Traveling to Sumba (#1 Preparation)


Sumba. Entah sejak kapan, pesona alam di Sumba menjadi populer dikalangan turis domestik. Artis-artis tanah air mulai bergiliran mengunjungi pulau ini. Dunia maya pun geger dengan hadirnya keindahan pulau Sumba ditengah-tengah Feeds. Banyak orang yang penasaran, semakin banyak orang yang melihat, dan semakin sering pula foto-foto itu muncul. Aku dan Vina ingin sekali sebenernya supaya Chan (nama geng sewaktu SMP) untuk mengulangi perjalanan bersama berlima. Dulu, waktu kami masih SMP, kami pernah bepergian ke Bandung. Sepuluh tahun kemudian, hanya aku dan Vina yang akhirnya bepergian kembali.

Aku dan Vina pengin banget merealisasikan impian untuk traveling, walau dengan budget yang papasan. Aku yang gagal menabung ditiap bulannya hampir membatalkan perjalanan ini. Vina yang sudah menabung, tapi kurang sedikit lagi juga mulai pesimis. Kita bisa gak sih? Kayaknya kita gak bisa?

Lucunya, Vina sampai bilang ke orang tua-nya untuk mendoakan semoga harapan dia untuk bisa menginjakkan kaki di tanah Humba dapat terwujud segera. Lain halnya dengan aku yang malah sibuk berpikir untuk meng-akali gimana caranya agar kita bisa pergi. Terus aku teringat produk kantor-ku sendiri. Kalau gak salah, Traveloka punya paylater. Ini cerita beneran ya, bukan perez. Haha.

Masalah pertama selesai, pemirsa. Kita bisa mengakali keuangan untuk flight dengan cicilan 0% 3 bulan melalui paylater. Ya, dulu cicilannya masih 0%, tanpa ada biaya tambahan. Kenapa kita pilih installment 3 bulan? Ya, karena memang kurang sedikit aja dari total keseluruhan. Jadi masih ketutup kalo ada tambahan 1 bulan setelah keberangkatan, karena sudah mendekati musim hujan btw.

Intinya, persiapkan keuanganmu dengan matang untuk membiayai seluruh kebutuhan pre-travel D-3 bulan. Kalo gak keburu tenang aja, masih bisa cicilan pake paylater atau credit card. Banyak jalan menuju roma Sumba coy.



Masalah kedua pun muncul. Disana kita gimana? Walaupun Sumba masih destinasi lokal, terlalu banyak aspek-aspek yang tidak kita ketahui dari kacamata penduduk ibukota. Akhirnya kita memutuskan untuk ikut open trip. Tujuannya sederhana biar gak bahaya hanya 2 perempuan, dan bisa ada yang kita mintain tolong buat fotoin kita berdua. Oh ya, ada yang belum tau open trip itu apa? Open trip itu suatu grup yang terdiri dari beberapa orang yang mungkin sudah atau belum kenal satu sama lain yang ingin berkunjung ke destinasi yang sama.

Kita punya rekomendasi yaitu @toursumbasamad (tapi sepertinya sekarang sudah berganti jadi @holasumba). Saat itu juga aku langsung menghubungi contact person yang tertera, yaitu Pak Samad. Beliau cukup responsif selama aku bertanya-tanya. Jujur, aku pikir aku tau Sumba itu dimana. Ternyata engga dong. Haha.

Lagi-lagi aku mencari flight yang aku butuhkan dari Traveloka. Aku ketik "Sumba", karena aku ingin ke Sumba. Hasil pencarian menunjukkan "Sumbawa", aku pikir sama, tapi nama airport yang tertera itu berbeda dengan penjelasan Pak Samad. Pak Samad menjelaskan, hanya ada 2 airport di Sumba, yaitu Tambolaka dan Waingapu. Kemudian, aku ketik sesuai penjelasan Pak Samad, ada.

Aku masih bingung, kenapa hasil pencarian bisa berbeda. Ternyata ada dua pulau. Satu pulau bernama Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, dan pulau lainnya adalah Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur. Jujur, aku pikir aku tau pulau Sumba itu dimana. Hasil pencarian Google tidak menunjukkan adanya indikasi Pulau Sumba secara tertulis di Tambolaka dan Waingapu airport. Lega aku konfirmasi ulang, gak asal book. Kita memilih perjalanan 4 hari 3 malam, dengan start di Tambolaka Airport dan berakhir di Waingapu Airport.

Intinya, kalo kamu pilih open trip, jangan lupa pastikan start dan end point kamu dimana sebelum kamu book flight. Kalo ticket bisa refund mending beb, kalo enggak kan nyesek.



Setelah masalah airport selesai, berlanjut dengan masalah harga. Ternyata harga open trip itu fix ga bisa nego. Kita deal di harga 3 juta per orang, lengkap dengan itinerary yang telah dijelaskan melalui chat. Destinasi yang Vina pengin sudah terangkum guys, jadi dia langsung manut. Flight Lion Air + Wings Air (transit di Bali) PP dapet 3,5jt-an per orang. Mahal ya. Iya, mungkin kita salah jam buat book-nya. Dulu aku cupu gini-ginian :( Sekarang udah lebih paham kapan harga bisa turun. Jawabannya? Price Alerts punya Traveloka. Ini lagi-lagi gak perez kok.

Tuh, total open trip dan flight 6,5jt per-orang. Biaya apa lagi sih yang perlu dipikirin sekarang?

1. Biaya airport transport. Dari rumah ke bandara naik apa? Dari bandara ke rumah naik apa? Syukur kalo masih bisa dianterin orang rumah. Kalo ga ada yang anter, harus dipikirin kan? Opsi dari aku ada beberapa. Pertama, ride-hailing sih. Harga-nya lebih fix dan cenderung lebih murah. Tapi kelemahannya, mungkin gak ada yang available kalo kamu berangkat terlalu pagi. Kedua, blue bird lah. Unit pasti banyak, dan pasti ada aja yang masih available. Tapi kelemahannya, kalo kena macet bisa bolong beb kantong beb. Ketiga, Traveloka juga punya Airport Transport. Inventory-nya bervariasi, harga juga all-in dan fix. Tapi kelemahannya, harga yang agak pricey.

Intinya pilih yang sesuai aja sih. Kalau menuju airport, mending Airport Transport punya Traveloka, inventory-nya bervariasi, harganya fix dan all-in, kadang ada promo juga. Kalau dari airport, boleh lah tengok opsi lain karena lebih santai dan tidak dikejar waktu. Eh tapi ini berlaku untuk di kota asal ya. Kalau dari airport (di kota tujuan), sebenernya lebih enak pake produk yang udah terjamin pasti dijemput dan harga masih rupiah juga.

2. Biaya operasional (kebutuhan yang sekiranya bakal dibutuhin buat di Sumba tapi disiapkan dari kota asal). Kalo aku sih jujur, perlu beli beberapa mandatory stuff yang harus banget aku bawa kalo traveling. Seperti counter pain, hot patch, dan wet tissue. Agak berlebihan ya? Tapi hati lebih tenang dan damai kalo semua itu ada. Nah, balik lagi ke kebutuhan masing-masing. Mungkin ada yang perlu beli soft-lens, flashlight, drone, go-pro, make up. Lebih baik hal yang pasti kamu butuhin, udah kamu beli di kota asal, karena belum tentu barang-barang itu ada di tempat tujuan. Jangan lupa juga untuk cek segala macam history wabah yang pernah terjangkit di destinasi tujuan kamu, dan lakukan tindakan pencegahan. Aku ingat ini last minute banget, terus apoteker tempat beli obatnya pun kurang membantu, karena aku dikasih obat kina (ini buat nyembuhin, bukan pencegahan). Karena mencegah lebih baik daripada mengobati.



3. Biaya oleh-oleh. Oleh-oleh bisa buat diri sendiri dan orang lain. Seperti aku misal, aku mau banget beli kain Sumba buat diri aku sendiri. Atau ada orang lain yang mungkin ini mengoleksi tumblr Starbucks bertuliskan nama kota yang dikunjungi. Terus kalo kamu ada uang lebih, dan ingin memberikan kebahagiaan buat orang-orang di-sekitar dengan memberikan icip oleh-oleh kota yang kamu kunjungi, why not?

4. Biaya tak terduga yang perlu di-siapin. Ini perlu banget sih. Kalo ke daerah terpencil, usahakan cash. Gak bisa terlalu berharap kalo ATM akan mudah dijumpai. Kalo ke luar negeri, santai dengan VISA/MasterCard, kalo pun mau cash lebih baik persiapkan USD karena lebih universal atau bisa intip di blog lain currency apa yang populer di kota tujuan kamu. Tujuannya biar mempermudah kamu, jika sewaktu-waktu kamu perlu mengeluarkan biaya tambahan.

Intinya, semua pasti bisa. Disiplin dalam menabung sih. Sisanya biarkan Tuhan yang pegang kendali penuh. Kamu bisa berada dimanapun atas kehendak-Nya.


PS. Don't forget to watch my documentation here.

No comments:

Post a Comment